Minggu, 25 Agustus 2013

MENUMBUHKAN RASA CINTA TANAH AIR INDONESIA

Masyarakat Indonesia, untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air ada dalam diri kita masing-masing. Mulai dari pelajaran kewarganegaraan di berbagai jenjang pendidikan, penuturan sejarah dan fakta  dari hasil kemerdekaan  “Indonesia Raya, merdeka merdeka. Tanahku, Negeriku, yang kucinta.
Indonesia Raya, merdeka merdeka. Hiduplah Indonesia raya.”
Kecintaan pada tanah air kemudian ditunjukkan dalam berbagai cara oleh masyarakat Indonesia. Ada yang berjuang mengharumkan nama bangsa di tingkat dunia dalam  Bidang Olah Raga, seni, dan Ilmu Pengetahuan ada yang siap membela Indonesia dengan menjadi Tentara dan Polri dan Resimen Mahasiswa, ada juga yang berusaha menjadi pribadi manusia Indonesia yang baik dalam kesehariannya, dan selalu saja akan ada tanya, “Selain karena secara faktual dan hukum tercatat sebagai orang Indonesia, kenapa kita harus mencintai Indonesia?”
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan manusia tentang Negara dan Bangsanya mulai berkembang pada usia Anak lima tahun. Pada usia itu, anak mulai mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari suatu bangsa. Hal itu juga disertai pengetahuan geografi dasar seperti mengenali nama ibu kota negara tempat ia tinggal, bendera negara, dan sebagainya. Pada usia sepuluh tahun, anak mulai dapat menggambarkan karakteristik-karakteristik yang menjadi ciri khas bangsanya. Di Indonesia, hal ini diperkuat dengan disusunnya kurikulum pendidikan kewarganegaraan di tingkat sekolah dasar dan menegah. Secara langsung, anak Indonesia diajar untuk mengenali karakteristik bangsanya sesuai petunjuk buku pegangan sekolah : murah senyum, suka menolong, ramah, dan sebagainya.
Anak memaknai dirinya sebagai bagian dari bangsa dan negaranya dengan menunjukkan semangat Patriotisme dan mempunyai semangat etnosentrime artinya  Definisi etnosentrisme di sini disempitkan pada sikap menunjukkan preferensi terhadap bangsa dan negaranya sendiri di banding yang lain. Hal ini, menurut hasil peneliti dkk. disebabkan oleh pengalaman anak berinteraksi dengan sikap dan perilaku yang memang menunjukkan preferensi terhadap bangsa dan negaranya. Artinya, anak akan cenderung melekatkan sikap dan perilaku yang menurutnya baik sebagai bagian dari skap dan perilaku bangsanya.
Untuk membuktikan hipotesis tersebut, dari hasil peneliti dkk. melakukan sebuah eksperimen yang melibatkan anak-anak dalam rentang usia 6-12 tahun. Eksperimen tersebut dilakukan di enam negara : Inggris, Belanda, Austria, Skotlandia, Belgia, dan Italia. Dalam eksperimen tersebut, anak-anak dihadapkan pada dua puluh tiga foto laki-laki dan diminta untuk menyelesaikan dua buah tugas. Pada tugas pertama, mereka diminta untuk menilai tingkat kesukaan mereka pada laki-laki dalam foto. Respon mereka terukur dari skala 1 sampai 4, di mana 1 adalah “Aku sangat suka dia” dan 4 adalah “Aku sangat tidak suka dia.” Kemudian, mereka diberitahu bahwa sebagian dari orang dalam foto tersebut berasal dari negara yang sama, sedangkan sebagian lagi tidak. Tugas mereka selanjutnya adalah menentukan siapa saja dari kumpulan foto tersebut yang berasal dari negara yang sama dengan mereka.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya kecenderungan anak-anak untuk menganggap orang yang mereka sukai sebagai orang yang berasal dari negara yang sama dengan mereka. Hal ini menunjukkan preferensi anak terhadap bangsanya sebagai sesuatu yang “baik” dan “disukai”. Namun, kecenderungan ini menurun seiring pertambahan usia (dilakukan perbandingan kelompok usia 6-8 tahun dan 9-12 tahun). Anak-anak yang lebih dewasa diperkirakan sudah bisa mempertimbangkan faktor karakteristik fisik orang dari negara asalnya saat melakukan tugas kedua. Hal ini diperkuat dengan membandingkan hasil eksperimen di lima negara (Austria, Inggris, Belanda, SKotlandia, dan Belgia) dengan hasil di Italia. Anak-anak Italia dapat lebih akurat menentukan kelompok orang yang berasal dari negara yang sama dengan mempertimbangkan perbedaan ciri fisik mereka dengan orang-orang di lima negara lain (kebanyakan orang di negara tersebut berambut pirang, Italia berambut gelap).
Di skala nasional, rasa cinta yang bernapaskan etnosentrisme dapat berfungsi sebagai media promosi kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa. Schaefer (2006) menilai perilaku merendahkan bangsa dan negara atau budaya lain dapat menumbuhkan semangat patriotik bagi suatu bangsa. Bangsa Indonesia cukup akrab dengan bentuk cinta tanah air yang bernapaskan etnosentrisme ini. Bahkan, ketika menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Soekarno sempat memanfaatkan napas etnosentrisme ini untuk menumbuhkan semangat persatuan dengan menyebarluaskan jargon “Ganyang Malaysia”, “Amerika kita Seterika”, “Jepang kita Panggang”, dan “Inggris kita Linggis” (baca tulisan ).
Lebih dalam lagi, rasa cinta terhadap tanah air kemudian berkembang sebagai semangat kebangsaan yang dilandaskan pada kesadaran akan “keanggotaan dalam suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu” (definisi nasionalisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kecintaan ini didasarkan kesadaran akan identitas bangsanya dan semangat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama, tidak semata untuk membela bangsa dari ancaman dalam maupun luar negeri. Seperti ketika kita bangga Pulau Komodo masuk dalam nominasi Keajaiban Dunia dan tergerak untuk memberikan suara dalam voting UNESCO, bukan karena saingan kita Malaysia, tapi karena bagi kita, keindahan Indonesia begitu membanggakan untuk dibagi dengan dunia.


 1.Melaksanakan Upacara Bendera
Rasa Cinta Tanah Air dapat ditanamkan kapada anak sejak usia dini agar rasa terhadap cinta tanah air tertananam d hatinya dan dapat menjadi manusia yang dapat menghargai bangsa dan negaranya contohnya degan upacara sederhana setiap hari Senin yang di lakukuan di sekolah degan menghormat bendera Merah Putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya dgn penuh bangga, dan mengucapkan Pancasila degan semangat.
Kegiatan seperi ini bisa diarahkan pada 5 aspek perkembangan sikap perilaku maupun kemampuan dasar. Pada aspek sikap perilaku, melalui cerita bs menghargai dan mencintai Bendera Merah Putih, mengenal cara mencintai Bendera Merah Putih dengan merawat dan menyimpan degan baik, menghormati bendera ketika dikibarkan

2. Melatih Siswa didik Untuk Aktif Dalam Berorganisasi
Kegiatan anak di luar belajar formal juga melatih inisiatif. Anak yang melibatkan dirinya dalam organisasi, akan berusaha menjadi pribadi yang berguna. Inilah sebabnya, anak menjadi pribadi yang berinisiatif tinggi karena ia merasa diperlukan olh organisasinya. Anak yang berorganisasi juga cenderung lebih obyektif dalam menilai sesuatu. Ia terbiasa dengan perbedaan dan lebih mudah menerimanya. Anak juga lebih mudah menerima konflik yang biasa terjadi dalam organisasi.

3. Melalui Acara Memperingati Hari Besar Nasional
Kegiatan lain adlh memperingati hari besar nasional dgn kegiatan lomba atau pentas budaya, mengenalkan aneka kebudayaan bangsa secara sederhana degan menunjukkan miniatur tugu pahlawan serta tempat sejarah budaya candi & menceritakannya, gambar rumah & pakaian adat, mengenakan pakaian adat pada hari Kartini, serta mengunjungi museum bersejarah terdekat, mengenal para pahlawan melalui bercerita atau bermain peran. Bisa juga diintegrasikan dalam tema lain melalui pembiasaan sikap dan perilaku, misalnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, menyayangi sesama penganut agama, menyanyangi sesama dan makhluk Tuhan yang lain, tenggang rasa dan menghormati orang lain. Menciptakan kedamaian bangsa adalah juga perwujudan rasa cinta tanah air.

4. Melalui Lagu-Lagu Nasional
Yang tidak kalah menariknya adalah menanamkan rasa cinta tanah air melalui lagu lagu kebangsaan . Degan menyanyi apalagi jika diiringi degan musik, anak akan merasa senang, gembira, serta lebih mudah hafal dan memahami pesan yang akan disampaikan guru. Jika lagu wajib nasional dianggap masih terlalu sulit utk anak, maka guru bisa menciptakan lagu sendiri yg sesuai utk anak usia dini. Guru diberikan kebebasan untuk mengembangkan kreativitasnya di sekolah termasuk dlm menciptakan lagu. Lagu utk anak usia dini biasanya dgn kalimat yg sederhana, mudah diucapkan, mudah dipahami dan dihafalkan. Lagu sebaiknya yang bernada riang gembira, karena hal ini akan merangsang perkembangan otak anak, anak terbiasa untuk selalu riang dalam bekerja, cepat dalam menghadapi dan memutuskan masalah serta tidak cepat putus asa.

5. Memberikan Pendidikan Moral dan kedisiplinan
Membentuk moral anak bisa dilakukan lewat story telling (dongeng). Kegiatan membaca dongeng & berdiskusi antara guru dan anak, ini dapat dilakukan di sekolah maupun di rumah. Anak tentu saja menjadi anugerah terindah bagi setiap orangtua. Namun, ketika sang buah hati beranjak remaja atau dewasa, bisa jadi anak yg telah dibesarkan & dididik sebaik mungkin, menjadi anak yang tidak mengerti nilai2 moral dlm kehidupan
Sikapnya patuh dan taat kepada ibu guru dan sesama kawanya saling menghargai menghormati dalam kedisiplinan pribadi bila anak anak didik lebih memahaminya apa itu dsiplin pribadi
’Sebagai KORPS MENWA INDONESIA, tiap anggota Menwa indonesia harus mampu memberikan wawasan kebangsaan di lingkungan di mana ia berada, baik lingkungan kerja maupun rumah dan pribadinya ..ingat kita harus berwawasan kenegaraan demi Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar